Sejak pindah ke Jerman 2005, aku langsung punya beberapa sahabat. Herbert tentu saja, yang merupakan sahabat sekaligus keluarga satu-satunya disini.
Renate dan Horst, yang merupakan pasangan kakek-nenek yang aku kenal beberapa bulan kemudian dan menjadi sahabat setiaku hingga kini.
Sahabat baru yang aku kenal sebulan lalu adalah Gudrun, seorang cewek Jerman yang tinggal di Den Haag. Kami bertemu di Marburg dalam sebuah acara dan menjalin komunikasi hingga kini.
Aku akan menulis tentang Horst dan Renate.
Bulan lalu sahabatku Horst dan Renate merayakan Golden Ring – Perayaan 50 tahun pernikahan mereka.
Suwer, sebelumnya selama masih tinggal di Indonesia, aku alergi banget berteman apalagi bersahabat dengan orang-orang yang jauh dari usiaku. Banyak masalah, mulai dari tema pembicaraan yang tidak nyambung sama sekali sampai selera tempat nongkrong yang bertolak belakang dan lain-lain.
Tapi sejak tinggal di Jerman aku merasa nyaman berteman dengan siapapun (Mungkin karena tidak punya banyak teman).
Mereka merayakan acara Golden Ring secara besar-besaran; mengumpulkan semua keluarga dan sahabat-sahabatnya (Termasuk aku) dalam acara makan malam disebuah restoran mahal. Tapi sayang sekali aku tidak bisa hadir karena jadwal kerja yang tiba-tiba kacau.
Aku menelpon mereka 2 minggu sebelumnya tentang ketidak-hadiranku dan aku mendengar Renate yang menerima telpon hari itu hampir menangis dari nada suaranya. Dia bilang sayang sekali karena dia sudah mempersiapkan aku untuk dikenalkan dengan semua keluarganya termasuk cucu-cicitnya. Suasana pasti akan lebih menyenangkan jika aku datang, katanya.
Berkali-kali aku mengatakan menyesal tidak bisa datang dan berkali-kali juga mengumpat atasanku karena tiba-tiba memberikan tugas yang seharusnya tidak aku kerjakan hari itu. Aku berjanji pada Renate untuk mengirimkan kado lewat pos saja.
Sudah aku duga sebelumnya, dia berbicara dengan tegas dan berpura-pura marah bahwa aku tidak harus memberikan kado apapun untuk mereka, menyarankan untuk menabung saja uangku dan digunakan untuk mudik akhir tahun ini (Tentu saja mereka sudah tahu rencana besarku untuk liburan ke Indonesia pada cuti akhir tahun ini)
Sebagai gantinya mereka ingin menghabiskan waktu satu hari penuh cuma dengan aku dan Herbert. Ya sudah turuti saja.
Hasilnya, seharian kami bermobil kesana-kemari sepanjang north see coast tanpa tujuan pasti, nongkrong dan jagongan disebuah restoran makan siang yang aku nggak tau pasti dimana itu letaknya.
Jalan lagi… eh, tau-tau sudah berada di East Sea. Berhenti di pelabuhan Brunsbuttel, lapar lagi… celingak-celinguk kesana kemari, lihat beberapa menu di restoran yang ada dan menemukan satu yang menarik pas di pojok pelabuhan.
Asiknya, restoran ini punya beranda yang menjorok ke air, jadi kesannya seperti mengambang, gitchu….









