Kembali ke 25 tahun silam….
Siang itu matahari terik membakar, Bedjo kecil sedang istirahat siang disebuah gubuk beratap pelepah daun kelapa ditengah sawah bersama bapaknya, membuka nasi rantang yang dibawakan emaknya waktu mereka berangkat ke sawah pagi-pagi benar.
Sebenarnya Bedjo kecil tidaklah sering ke sawah, hanya pada hari libur saja ia akan ikut membantu bapaknya (si Bapak sebenarnya keberatan jika Bedjo ikut ke sawah, bukannya membantu kerja malah merusak hasil kerja – Itu anggapan si Bapak -)
Nasi rantang selalu nikmat jika dimakan ditengah sawah ditengah hari seperti itu, anggap Bedjo.
Sayup-sayup terdengar deru kapal terbang, semakin lama semakin jelas. Langit desa terpencil dilereng gunung Raung itu memang menjadi jalur penerbangan dan Bedjo kecil selalu beranggapan kapal terbang adalah benda luar biasa.
Suatu kali bapaknya menjelaskan bahwa kapal itu berisi orang-orang kaya yang bepergian dari negara satu ke negara lainnya.
Bedjo kecil meloncat keluar gubuk, melihat kapal terbang itu dengan mata berbinar – seperti setiap saat waktu mengawasi kapal terbang – melambai-lambaikan tangannya, meloncat-loncat riang hingga kapal terbang itu menghilang menjadi sebuah titik.
Kembali ke gubuk, makan lagi bersama Bapaknya. Si emak sibuk menata sesuatu kesana-kemari diseputar gubuk.
“Bapak,” Kata Bedjo kecil dengan mata berbinar “Nanti kalo sudah besar aku akan terbang jauuuh… sekali, naik kapal terbang.” tersenyum lebar dan polos layaknya anak kecil.
Si bapak tersedak, batuk-batuk kecil dan mengambil air minum. Emaknya menghentikan pekerjaannya dan menatap Bedjo dengan pandangan aneh.
Bapak dan Emaknya bertukar pandang dan menahan tawa geli. Emaknya mendekat dan mencium pipi Bedjo kecil, sementara bapaknya mengelus rambutnya dengan kasih sayang; “Ya, kamu boleh terbang tinggi dan pergi sejauh kamu mau… nanti kalau sudah besar…”
…Kembali kemasa kini…
Kereta api telah sampai di Stasiun Tönning. Kereta jam 7 malam adalah kereta para pekerja, mayoritas penumpangnya berpakaian resmi yang sedang pulang kerja.
Seorang lelaki muda (Juga dalam pakaian kerja) mengemasi tas kerjanya dan turun dari kereta. Berjalan tergesa keluar stasiun, menyeberang jalan dan sampai di depan pintu rumahnya; sebuah rumah antik yang dibangun pada tahun 1890.
Rumah itu tidaklah terletak di sebuah desa terpencil di lereng gunung Raung – Banyuwangi, tetapi berada di area pantai North See, Nordfriesland, Jerman Utara.
Ya, seperti kata Bedjo kecil dulu kepada orang-tuanya bahwa dia akan terbang dan pergi jauuuhh… sekali, dan bapaknya menjawab dengan kasih sayang; Bedjo telah terbang dan pergi jauh, kini dia menjalani hidupnya jauh dari desa kelahirannya.
Bedjo kecil (Yang telah menjadi pria dewasa) itu adalah aku.




